Informasi Kejadian Keracunan dari 138 Media Massa Online pada Bulan April – Juni 2017.

Sejak bulan April hingga Juni 2017, terdapat 31 berita insiden keracunan (kejadian keracunan dengan jumlah korban lebih dari 1 orang) yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia yang diperoleh dari 138 media massa online.

Keracunan akibat mengkonsumsi produk pangan (makanan dan minuman) mendominasi kejadian keracunan tersebut, dengan jumlah kejadian sebanyak 27 insiden. Insiden keracunan akibat mengkonsumsi produk tumbuhan, menelan pestisida, terhirup pencemaran lingkungan dan keracunan campuran (tertelan produk kimia serta terhirup pencemar lingkungan), masing-masing 1 (satu) insiden keracunan. Total korban keracunan berjumlah 1498 korban dengan 8 korban meninggal dunia.

Tabel 1. Distribusi Insiden Keracunan Berdasarkan Kelompok Penyebab (April-Juni 2017)

No

Penyebab Keracunan

Jumlah Insiden

Persentase (%)

Korban

Korban Meninggal

1

Makanan

24

77.42

1265

5

2

Minuman

3

9.68

96

0

3

Campuran

1

6.45

9

1

4

Pestisida

1

3.23

120

0

5

Tumbuhan

1

3.23

3

0

6

Pencemaran Lingkungan

1

3.23

5

2

Total

31

100

1498

8

Adapun penyebab keracunan akibat mengkonsumsi makanan olahan dalam kemasan sebanyak 1 insiden dengan korban 4 orang, 4 insiden karena makanan olahan jajanan (PKL) dengan korban sebanyak 102 orang, makanan olahan jasaboga (katering, restoran, hotel, kantin) sebanyak 10 insiden dengan korban 666 orang, makanan olahan rumah tangga sebanyak 9 insiden dengan korban 493 orang dan 5 diantaranya meninggal dunia, serta 3 insiden karena minuman lainnya dengan korban sebanyak 96 orang.

grafik-1

Kejadian keracunan yang diakibatkan oleh tumbuhan yang terjadi di Bintan, Kepulauan Riau. Satu  insiden keracunan tersebut terjadi pada satu keluarga yang tidak sengaja mengkonsumsi jamur yang diduga mengandung racun. Jamur tersebut diperoleh korban dari kebun sendiri dan jenis jamurnya tidak diketahui. Insiden ini mengakibatkan korban sebanyak tiga orang.

Insiden keracunan akibat pestisida terjadi di daerah Sumatera Utara yang diduga disebabkan oleh sumber air di tempat tinggal warga tercemar oleh pestisida pertanian yang disemprotkan di lokasi lahan pertanian milik sebuah perusahaan. Insiden ini masih diselidiki namun diduga diakibatkan kelalaian pihak perusahaan tersebut. Insiden keracunan tersebut mengakibatkan korban sebanyak 120 orang tanpa ada korban meninggal dunia.

Insiden keracunan yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan terjadi di provinsi Bengkulu dengan jumlah korban sebanyak 5 orang dan 2 diantaranya meninggal dunia. Insiden tersebut diakibatkan oleh asap dari mesin generator yang digunakan untuk membantu menyedot air pada lubang galian tambang emas tradisional di daerah tersebut.

Selain itu, terjadi satu insiden keracunan akibat campuran (produk kimia dan pencemaran lingkungan) di Jawa Timur dengan total korban sebanyak 9 orang dengan 1 orang diantaranya meninggal dunia. Insiden terjadi akibat korban yang merupakan karyawan di tempat pengolahan pupuk cair menghirup gas amoniak dan karbon dioksida. Insiden tersebut masih diselidiki dengan dugaan sementara akibat kecelakaan kerja atau karena tidak lengkapnya perijinan tempat pengolahan pupuk cair tersebut dan kurangnya APD (Alat Perlindungan Diri).

Grafik profil insiden keracunan di Indonesia berdasarkan propinsi, sesuai informasi dari media massa online (April-Juni 2017):

grafik-2