Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, Oktober-Desember tahun 2016 berita keracunan yang dikumpulkan oleh Sentra Informasi Keracunan Nasional (SIKerNas) tercatat sebanyak 46 insiden keracunan yang diperoleh dari 138 media massa online. Berdasarkan hasil penelusuran, keracunan akibat pangan mendominasi sebanyak 42 insiden keracunan dengan rincian sebagai berikut 33 insiden keracunan yang disebabkan karena makanan, 7 insiden keracunan yang disebabkan karena minuman serta 2 insiden keracunan yang disebabkan karena minuman yang dicampur dengan produk suplemen. Selain keracunan akibat pangan, insiden keracunan lainnya yaitu disebabkan karena pencemar lingkungan sebanyak empat insiden keracunan. Berita keracunan yang terdokumentasi dari bulan Oktober-Desember 2016 tersebar dari seluruh wilayah Indonesia mulai dari propinsi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua dengan total korban keracunan sedikitnya berjumlah 1276 korban, 13 diantaranya meninggal dunia.

Keracunan karena pangan didominasi oleh makanan olahan rumah tangga dengan total insiden empat belas insiden keracunan. Kejadian keracunan karena makanan olahan rumah tangga terjadi di wilayah Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Terdapat sedikitnya 430 korban keracunan akibat pangan olahan rumah tangga dan 4 diantaranya meninggal dunia.  Kerang hijau mendominasi penyebab keracunan akibat pangan olahan rumah tangga yang terjadi  diwilayah Cirebon. Sedikitnya terdapat 58 korban keracunan dan 3 diantaranya meninggal dunia. Kerang hijau yang dikonsumsi diberitakan berasal dari kiriman saudara di Jakarta, pemberian dari nelayan pengepul kerang hijau dan membeli dari petani kerang hijau yang memanen hasil dalam rentang waktu 3-4 bulan. Makanan olahan rumah tangga lain yang menjadi penyebab keracunan adalah makanan pada saat pesta yang dimasak sendiri oleh pihak yang menyelenggarakan pesta tersebut, diantaranya capcay, nasi lengko, bubur sura. Selanjutnya makanan olahan jasa boga merupakan penyebab keracunan yang kedua setelah makanan olahan rumah tangga. Makanan olahan jasa boga berasal dari katering, restoran, hotel atau kantin. Berdasarkan berita yang dikumpulkan terdapat dua belas insiden keracunan karena pangan olahan jasa boga dengan total korban sebanyak 406 korban yang banyak disebabkan oleh makanan yang berasal dari katering. Kejadian keracunan karena jasa boga terjadi di wilayah Sumatera, Jawa, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan Sulawesi.

Minuman juga merupakan salah satu penyebab keracunan yang terjadi dimasyarakat, berdasarkan berita yang dikumpulkan terdapat 7 insiden keracunan karena minuman, 4 insiden keracunan karena minuman keras termasuk minuman keras oplosan dan 3 insiden keracunan karena minuman lainnya. Terdapat 126 korban keracunan karena minuman dan 6 orang diantaranya meninggal dunia. Korban yang meninggal dunia tersebut disebabkan karena minuman keras jenis alkohol (metanol) teknis dengan kadar 96% yang biasa digunakan sebagai pelarut dalam industri kemudian di”oplos” atau dicampur dengan bahan lain seperti minuman sari buah, produk suplemen, minuman berenergi serta minuman yang berkarbonnasi. Selain itu juga terdapat dua insiden yang disebabkan karena campuran minuman keras dan produk suplemen dengan total korban enam korban, tiga diantaranya meninggal dunia.

Selama bulan Oktober- Desember 2016 terdapat empat insiden keracunan disebabkan akibat pencemar lingkungan yang berasal dari udara dengan total korban sebanyak 128 korban.   Satu insiden keracunan massal terjadi di Purwakarta, Jawa Barat disebabkan karena menghirup gas kimia yang berasal dari kebocoran gas dari sebuah industri yang bergerak di bidang produksi serat viscose. Selain itu, keracunan juga disebabkan karena menghirup gas hidrogen sulfida, asap fogging serta asap asam nitrat yang terjadi diwilayah Banten, Jawa Barat dan Jawa Timur.